Jika kita bicara soal PC Gaming, mustahil untuk tidak membicarakan Valve Corporation. Bagi kebanyakan gamer zaman now, Valve mungkin identik dengan diskonan Steam (terima kasih, Lord Gaben!) atau ekosistem esports raksasa seperti Dota 2 dan Counter-Strike 2. Tapi, tahukah kamu kalau perusahaan ini dulunya dimulai dari keputusan nekat dua orang jenius yang bosan menjadi “jutawan Microsoft”?
Mari kita bedah sejarah Valve secara mendalam, dari garasi hingga menjadi raksasa industri.
1996: Eksodus dari Microsoft
Cerita dimulai pada tahun 1996. Saat itu, Gabe Newell dan Mike Harrington adalah pegawai Microsoft yang sudah sangat mapan. Mereka berdua adalah “Microsoft Millionaires”—orang-orang yang kaya raya berkat saham Microsoft di era 90-an.
Namun, terinspirasi oleh rekan mereka, Michael Abrash, yang keluar dari Microsoft untuk bergabung dengan id Software (pencipta Quake), Gabe dan Mike memutuskan untuk mengambil risiko gila. Mereka keluar dari zona nyaman, mendirikan Valve L.L.C. di Kirkland, Washington, dan membiayai perusahaan tersebut dari kantong pribadi mereka.
Misi mereka sederhana tapi ambisius: Membuat game yang tidak sekadar “tembak-tembakan”, tapi punya cerita mendalam.
1998: Half-Life Mengguncang Dunia
Proyek pertama mereka adalah pertaruhan besar. Menggunakan lisensi engine Quake yang dimodifikasi habis-habisan (menjadi GoldSrc), Valve merilis Half-Life pada tahun 1998.
Hasilnya? Dunia gempar. Sebelum Half-Life, game FPS (First-Person Shooter) hanyalah soal lari dan tembak. Half-Life datang membawa narasi yang kuat, scripted events yang sinematik tanpa cutscene yang memutus aksi, dan AI musuh yang cerdas. Gordon Freeman, sang protagonis bisu, menjadi ikon instan. Game ini tidak hanya sukses secara komersial, tapi juga mendefinisikan ulang genre FPS selamanya.
Era Modding dan Lahirnya Counter-Strike
Salah satu keputusan jenius Valve adalah merangkul komunitas modder. Mereka merilis software development kit (SDK) untuk Half-Life secara gratis. Dari sinilah lahir sebuah mod bernama Counter-Strike buatan Minh Le dan Jess Cliffe.
Valve melihat potensi ini. Alih-alih menuntut, mereka justru merekrut pembuat mod tersebut dan menjadikan Counter-Strike sebagai game standalone. Siapa sangka, game yang berawal dari modifikasi komunitas ini akan menjadi standar kompetitif FPS dunia hingga detik ini.
Bicara soal kompetitif, tentu tak lepas dari kebutuhan skin dan item in-game. Bagi kamu yang aktif bermain game kompetitif dan butuh mengisi saldo untuk membeli Battle Pass atau skin terbaru, pastikan kamu memilih tempat top up game yang aman dan terpercaya di Melektekno.id agar akunmu tetap aman dan transaksi berjalan instan.
2003: Steam, Dibenci Lalu Dicinta
Tahun 2003 adalah titik balik terbesar kedua Valve. Mereka meluncurkan Steam.
Awalnya, Steam hanya dimaksudkan sebagai cara untuk menyalurkan patch dan update otomatis untuk game-game Valve (seperti CS 1.6) agar pemain tidak perlu repot mencari file update di internet. Namun, peluncuran awalnya penuh bencana. Server lambat, bug di mana-mana, dan UI yang kaku membuat gamer saat itu membenci Steam. Meme “Steam Updating…” yang tak kunjung selesai lahir di era ini.
Namun, Valve tidak menyerah. Pada 2005, mereka mulai mengizinkan publisher pihak ketiga untuk menjual game di Steam. Perlahan tapi pasti, dengan fitur regional pricing, cloud save, dan diskon musiman (Steam Sale), Steam berubah dari aplikasi yang “mengganggu” menjadi platform distribusi game digital terbesar di dunia yang hampir mematikan penjualan fisik game PC.
Source Engine dan The Orange Box
Di pertengahan 2000-an, Valve memperkenalkan Source Engine. Engine ini terkenal dengan sistem fisikanya yang revolusioner (Havok Physics). Half-Life 2 (2004) menjadi pembuktian teknis yang memukau, di mana pemain bisa memanipulasi gravitasi dengan Gravity Gun.
Puncaknya adalah peluncuran The Orange Box (2007), sebuah paket “gila” yang berisi Half-Life 2, Episode One, Episode Two, Team Fortress 2, dan sebuah game eksperimental bernama Portal. Paket ini sering dianggap sebagai deal terbaik dalam sejarah video game.
Masa Kini: Hardware dan Masa Depan
Dalam satu dekade terakhir, Valve mulai bereksperimen dengan keras di sisi hardware. Mulai dari Steam Controller dan Steam Link (yang kurang sukses), hingga Valve Index yang mendorong batas Virtual Reality lewat game Half-Life: Alyx.
Keberhasilan terbesar mereka di ranah hardware baru-baru ini adalah Steam Deck. Perangkat ini berhasil mewujudkan mimpi “PC Gaming dalam genggaman” yang powerful namun open-system, berbeda dengan konsol tradisional yang tertutup.
Kesimpulan
Dari studio kecil yang didanai tabungan pribadi eks-karyawan Microsoft, Valve kini telah menjadi “penjaga gawang” utama PC Gaming. Mereka tidak sering merilis game baru (lelucon bahwa Valve tidak bisa berhitung sampai angka 3 masih relevan), tetapi ketika mereka bergerak—baik itu lewat update Steam, teknologi VR, atau handheld console—seluruh industri akan memperhatikan.
Valve mengajarkan kita bahwa dalam teknologi, berani mengambil jalan yang berbeda (dan seringkali kontroversial) adalah kunci untuk bertahan dan memimpin pasar.
Semoga artikel ini bermanfaat! Jangan lupa, untuk urusan gaming dan voucher, selalu ingat Melektekno.id.











